SEJARAH SIGLI
Tulisan ini sangat memberikan informasi berharga akan
hubungan masyarakat Bugis-Makassar dan masyarakat Aceh yang sebenarnya sangat
memiliki hubungan benang merah yang sangat erat.h.HUBUNGAN ACEH DENGAN BUGIS
DALAM CATATAN SEJARAH BAGIAN I
Penyelenggaraan perkapalan dan perdagangan di kota-kota pelabuhan menimbulkan jalur komunikasi terbuka, sehingga terjadi mobilitas sosial baik horizontal maupun vertikal, serta perubahan gaya hidup dan nilai-nilai. Penyebaran agama Islam yang dibawa oleh kaum pedagang, perkawinan antar suku tidak terlepas dari adanya jalur perdagangan internasional pada masa lalu.
Kondisi ini memungkinkan adanya pembauran antara berbagai suku bangsa dalam satu daerah. Contohnya di Aceh hingga saat ini ada masyarakat di daerah Pidie melihat dari profilnya mirip dengan orang Tamil di India, sedangkan di Lamno ada masyarakat dengan warna mata biru mereka awalnya adalah komunitas sendiri keturunan Portugis. Begitu juga dengan Cina dan Arab juga bagian dari prototype orang Aceh.
Dalam catatan sejarah, masyarakat turunan Bugis yang ada di Aceh tidak terlepas dari sejarah Sultan Iskandar Muda. Awal dari sultan Aceh berdarah Bugis dimulai dengan pernikahan Iskandar Muda dengan Putroë Suni anak Daeng Mansyur (menantu Teungku Chik Di Reubee). Putroë Suni ketika dewasa dipersunting oleh Sultan Iskandar Muda sedangkan Zainal Abidin hijrah ke Aceh Besar selanjutnya terkenal dengan nama Teungku di Lhong dan ia mempunyai putra bernama Abdurrahim Maharajalela.[2]
Penulis Belanda juga menyebutkan tentang asal usul masyarakat Bugis yang ada di Aceh dengan menyebutkan adanya tiga orang ulama di Pidie berasal dari Sulawesi Selatan yaitu Teungku Seundri (sebenarnya adalah Sidendreng dalam logat Aceh disebut Seundri), Teungku Sigeuli yang namanya akhirnya diabadikan menjadi nama Kota Sigli, dan Daeng Mansur dari Wajo.[3] Sultan Iskandar Muda lahir pada tahun 1590 pada masa pemerintahan Sultan Saidilmukamil (1588-1604). Sebelum Sultan Saidilmukamil kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sultan Ali Riayat Syah atau Raja Buyung (± 1586-1588). Iskandar Muda memerintah kerajaan Aceh Darussalam dengan sangat bijak sehingga kerajaan Aceh mencapai masa gemilang. Perkawinannya dengan Putroe Suni dikaruniai seorang anak perempuan bernama Safiatuddin Syah. Safiatuddin menikah dengan Iskandar Thani berasal dari Pahang. Maka inilah awal dari adanya pemerintahan Sultanah dan Sultan keturunan Aceh-Bugis di Kerajaan Aceh Darussalam.
I.
Pendahuluan
Berbicara tentang hubungan antara Aceh
dengan Bugis tidak lepas dari membicarakan jalur perdagangan di Nusantara pada
awal abad 15. Sejak zaman kuno pelayaran dan perdagangan dari Barat dan negeri
Cina memerlukan pelabuhan tempat persinggahan untuk tempat mengambil bekal dan
menumpuk barang. Selama beberapa abad fungsi emporium tersebut dijalankan oleh
kerajaan Sriwijaya. Merosotnya kerajaan Sriwijaya pada akhir abad XIII
menyebabkan fungsi itu terpencar ke beberapa daerah di Nusantara antara lain di
Pidie dan Samudera Pasai.[1] Namun, pada abad 15 Malaka berkembang menjadi
pusat perdagangan yang paling ramai hingga Malaka jatuh ke tangan Portugis pada
tahun 1511. Hal ini berdampak kemunduran sedikit demi sedikit pada pusat
perdagangan. Kemunduran Malaka memunculkan Aceh sebagai pusat perdagangan yang
disinggahi oleh para pedagang muslim yang tidak mau berhubungan dengan
Portugis.
Penyelenggaraan perkapalan dan perdagangan di kota-kota pelabuhan menimbulkan jalur komunikasi terbuka, sehingga terjadi mobilitas sosial baik horizontal maupun vertikal, serta perubahan gaya hidup dan nilai-nilai. Penyebaran agama Islam yang dibawa oleh kaum pedagang, perkawinan antar suku tidak terlepas dari adanya jalur perdagangan internasional pada masa lalu.
Kondisi ini memungkinkan adanya pembauran antara berbagai suku bangsa dalam satu daerah. Contohnya di Aceh hingga saat ini ada masyarakat di daerah Pidie melihat dari profilnya mirip dengan orang Tamil di India, sedangkan di Lamno ada masyarakat dengan warna mata biru mereka awalnya adalah komunitas sendiri keturunan Portugis. Begitu juga dengan Cina dan Arab juga bagian dari prototype orang Aceh.
II.
Asal Usul Raja-Raja Aceh Keturunan Bugis
Selanjutnya siapakah masyarakat Bugis
yang ada di Aceh dan bagaimana keberadaannya di daerah itu ? Historiografi
tradisional yang pernah berkembang di Aceh menyebutkan silsilah Sultan Aceh
keturunan Bugis diawali dengan kisah seorang yang bernama Daeng Mansyur dari
Wajo (kini salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan). Ia seorang anak
raja yang terdampar di perairan Pidie (Kini Kabupaten Pidie di Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam). Disisi lain kita akan bercerita tentang sebuah
kampung (Aceh: Gampong) yang bernama Reubee ( kini di Kecamatan Delima di Kabupaten
Pidie). Di kampung ini terkenal Dayah yang dipimpin oleh ulama bergelar Teungku
Chik di Reubeë. Daeng Mansyur menikah dengan seorang puteri anak Teungku Chik
di Reubee tersebut dan dikaruniai dua orang anak, seorang perempuan yaitu
Putroë Suni dan anak laki-laki bernama Zainal Abidin.
Dalam catatan sejarah, masyarakat turunan Bugis yang ada di Aceh tidak terlepas dari sejarah Sultan Iskandar Muda. Awal dari sultan Aceh berdarah Bugis dimulai dengan pernikahan Iskandar Muda dengan Putroë Suni anak Daeng Mansyur (menantu Teungku Chik Di Reubee). Putroë Suni ketika dewasa dipersunting oleh Sultan Iskandar Muda sedangkan Zainal Abidin hijrah ke Aceh Besar selanjutnya terkenal dengan nama Teungku di Lhong dan ia mempunyai putra bernama Abdurrahim Maharajalela.[2]
Penulis Belanda juga menyebutkan tentang asal usul masyarakat Bugis yang ada di Aceh dengan menyebutkan adanya tiga orang ulama di Pidie berasal dari Sulawesi Selatan yaitu Teungku Seundri (sebenarnya adalah Sidendreng dalam logat Aceh disebut Seundri), Teungku Sigeuli yang namanya akhirnya diabadikan menjadi nama Kota Sigli, dan Daeng Mansur dari Wajo.[3] Sultan Iskandar Muda lahir pada tahun 1590 pada masa pemerintahan Sultan Saidilmukamil (1588-1604). Sebelum Sultan Saidilmukamil kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sultan Ali Riayat Syah atau Raja Buyung (± 1586-1588). Iskandar Muda memerintah kerajaan Aceh Darussalam dengan sangat bijak sehingga kerajaan Aceh mencapai masa gemilang. Perkawinannya dengan Putroe Suni dikaruniai seorang anak perempuan bernama Safiatuddin Syah. Safiatuddin menikah dengan Iskandar Thani berasal dari Pahang. Maka inilah awal dari adanya pemerintahan Sultanah dan Sultan keturunan Aceh-Bugis di Kerajaan Aceh Darussalam.







